Ia Hanya Mempersembahkan Kotoran kepada Dunia
Grenouille muda adalah kutu seperti itu. Dia hidup dengan menggelung rapat-rapat dirinya dan menunggu saat-saat yang lebih baik. Dia tidak memberikan apa-apa kepada dunia selain kotorannya—tidak senyuman, tidak tangisan, tidak binar mata, bahkan tidak bau tubuhnya sendiri. Perfume oleh Patrick Süskind halaman 33
Ini adalah re-read pertamaku akan buku ini. Dulu aku baca buku ini karena sedang suka dengan bunuh-bunuhan. Tak disangka hidungku agak kebas waktu baca ini. Entah kenapa waktu baca buku ini aku jadi lebih sensitif dengan bau juga karena membaca betapa banyak bau yang mengelilingi dunia.
Dulu, aku baca tanpa mikir apapun selain berpendapat bahwa buku ini bagus banget sampai-sampai setelah baca buku ini aku jadi kurang minat dengan bacaan lain. Bahkan setelah lima tahun aku membaca buku ini, aku masih ingat betul adegan-adegan didalamnya. Waktu mendengarkan salah satu lagu dari BIBI yang judulnya Witch Hunt, langsung terbayang adegan-adegan dari buku ini. Karena di album yang sama BIBI juga mengusung Animal Farm bersama produser yang sama dengan Witch Hunt, kukira lagu itu memang bereferensi novel ini (aku tidak bisa menemukan referensi yang menyebutkan persis demikian, ini hanya perkiraanku saja).
Album BIBI yang itu juga salah satu album yang sering kudengarkan akhir-akhir ini kalau sedang ingin marah. Tapi waktu baca novel ini lagi sampai halaman 30 kemarin, aku merasa kemarahan yang diantarkan lewat lagu-lagu itu masih kurang marah. Bahkan terjemahan bahasa Indonesia-nya saja semarah ini, bagaimana dengan naskah aslinya? Begitu heranku beberapa hari ini. Tadi siang aku sampai halaman 100 dengan bau keringat karena panas dan belum mandi. Lalu memutuskan untuk beranjak mandi dan membersihkan diri dari kemarahan Grenouille.
Aku suka cerita-cerita yang begini ini. Disgustingly angry, begitu aku menyebut novel ini. Tapi entah kenapa kemarahan disini masih lebih bisa aku terima dibanding kemarahan yang kuingat dari Cantik Itu Luka. Mungkin habis ini aku akan baca ulang CIL.
Hari ini belum kuselesaikan novelnya, tapi aku ingin nulis sepotong pemikiranku saat membaca buku ini disini.
Seberapa marahnya seorang anak manusia sampai-sampai tidak ingin membagikan hal paling primitif yang dimiliki semua makhluk?
Bau adalah hal yang semua entitas makhluk hidup miliki. Tanaman bahkan punya sistem proteksi diri dengan mengeluarkan zat berbau tertentu untuk menarik makanan atau pembantunya, juga untuk mengusir musuhnya. Hewan bisa berkomunikasi dengan baunya. Manusia juga secara tidak sadar sering terkemudikan akan bau-bau disekitarnya. Tapi Grenouille sama sekali tidak berbau, tidak ingin meninggalkan jejaknya sebagai seorang anak manusia di dunia.
Penulis dan penerjemah novel ini berhasil menangkap dan mengantarkan nyaris semua pemikiran kotor manusia dengan kata-kata dan bayangan bebauan. Teknologi tercanggih saat ini pun belum bisa mengantarkan bebauan seakurat novel ini, menurutku.
Setelah mengendus sedikit bau kecut dari wortel yang baru tadi pagi kubeli, aku akan berhenti sampai sini dulu dan makan malam. Setelahnya, aku yakin bakalan agak begadang lagi membaca Grenouille yang sudah punya senjata untuk mempermainkan dunia.
Selamat menikmati senja dan buku-buku lainnya!
Previous |